banner 728x250

Jacob Ereste : *Permohonan Maaf & Pencitraan Harus Bermuatan Spiritual*

banner 120x600
banner 468x60

Jacob Ereste :
*Permohonan Maaf & Pencitraan Harus Bermuatan Spiritual*

 

banner 325x300

TEMPOEPOS – Membangun citra diri yang sudah terlanjur buruk, memang kerja sia-sia belaka. Apalagi kesalahan sudah berulang dilakukan dengan kesan yang sangat dipahami dan disadari sepenuhnya, sehingga jelas menunjukkan bukan suatu kekeliruan yang tidak disengaja. Sebab kesalahan yang dilakukan dengan kesadaran, tidak mungkin dapat dimaafkan oleh orang yang paling pemaaf sekalipun.

Kesalahan yang dapat dimaafkan itu karena kekeliruan, bukan kesengajaan. Jadi mana mungkin ada permaafan, jika semua yang dilakukan itu jelas mengekspresikan ambisi dan syahwat bejat dirinya sendiri. Karena itu, upaya memperbaiki citra yang terlanjur melukai hati orang banyak sulit untuk mendapat permaafan seperti yang diharapkan.

Oleh karena itu, upaya memperbaiki citra dan meminta maaf yang sia-sia itu justru menunjukkan watak culas yang asli sebagai sikap dan sifat sebagai tukang tipu untuk memperdaya dan merendahkan akal Budi orang lain. Apalagi perlakukan serupa itu dilakukan terhadap orang banyak yang menaruh amanah kepercayaan untuk dilaksanakan seperti kepada wakil rakyat serta aparat pemerintah yang seharusnya bergiat melakukan usaha untuk meningkatkan kesejahteraan umum dan memberantas kemiskinan serta mengupayakan peningkatan kecerdasan rakyat seperti yang diamanahkan oleh UUD 1955 serta Pancasila sebagai ideologi negara dan falsafah bangsa Indonesia yang sudah final.

Untuk meninggalkan kemewahan, kekuasaan dengan segenap fasilitas yang bisa dinikmati selama menjalankan amanah rakyat yang tidak amanah, memang akan ada bayang-bayang dosa yang menggelayuti diri setelah semua itu harus ditinggalkan. Apalagi dengan kondisi yang dirasakan dalam keadaan terpaksa, lantaran nafsu belum sepenuhnya dirasakan puas. Bayang-bayang ketakutan yang menghantui itu, memang abstrak tapi nyata adanya seperti gondoruwo yang terus membuntuti ke mana saja perginya, tidak kecuali sampai ke tempat tidur yang semestinya nikmat, asyik dan santai bersama istri dalam satu selimut. Tapi gondorowo itu terus mengikuti, sebagai bukti dari keculasan yang tidak mungkin termaafkan sampai kapan pun.

Sekedar penyesalan, bisa saja begitu adanya, tapi itu semua dapat dipahami oleh banyak orang yang terluka dan menderita akibat deraan dari perbuatan bejad yang tidak pernah diharapkan saat memberikan amanah dan kepercayaan untuk dijalankan saat bertahta di tampuk kekuasaan yang memang cenderung memabukkan itu. Lantaran ambisi dan egoisme adalah ideologi bawaan yang harus dilawan dan dikendalikan agar harkat kemanusiaan tidak terjerembab menjadi sekelas hewan yang hanya mengandalkan naluri, nafsu dan ketamakan tanpa batas.

Permohonan maaf itu sendiri sesungguhnya beranjak dari rasa bersalah entah kepada siapapun dan untuk siapapun dengan suatu kesadaran penyesalan dan tak lagi hendak mengulangi segala bentuk kesalahan atau sekedar janji kosong untuk memperdaya orang lain agar memberi simpati hingga rasa iba yang tidak penting bagi seorang kesatria sejati. Karena itu dalam berbagai pandangan falsafah para leluhur suku bangsa Nusantara yang otentik dan sahih ada pengertian dan pemahaman terhadap grid setiap orang yang berkelas Kesatria, Brahmana, Syiwa dan Sudra. Jadi kalau keladnya belum setara itu, sejumlah titel dan gelar hingga ijazah dan sertifikat, sia-sia untuk ditempelkan didepan maupun di belakang nama yang tidak pantas menyandang titel tersebut. Termasuk gelar kebangsawanan yang memang palsu atau dibeli di pasar gelap. Akibatnya, semua yang dilakukan seperti terlihat di dalam gelap.

Banten, 16 Oktober 2024

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *